<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom" version="2.0" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"><channel><title><![CDATA[asmaralaya]]></title><description><![CDATA[cerita-cerita tentang hidup]]></description><link>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/</link><image><url>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/favicon.png</url><title>asmaralaya</title><link>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/</link></image><generator>Ghost 5.58</generator><lastBuildDate>Wed, 06 May 2026 11:24:36 GMT</lastBuildDate><atom:link href="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/rss/" rel="self" type="application/rss+xml"/><ttl>60</ttl><item><title><![CDATA[Surat untuk Istriku]]></title><description><![CDATA[Katakanlah aku bisa menjadi apa pun di dunia ini. Menjadi api. Menjadi matahari. Atau daun yang gugur itu. Hanya satu yang selamanya aku tak akan bisa:
Menjadi dirimu. Menjadi istri dan ibu dari anakku. ]]></description><link>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/surat-untuk-istriku/</link><guid isPermaLink="false">674e70f7846bcf0107d41a50</guid><category><![CDATA[Cerita]]></category><dc:creator><![CDATA[Rendika F. Kurniawan]]></dc:creator><pubDate>Tue, 03 Dec 2024 03:10:49 GMT</pubDate><media:content url="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/12/1000283823.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/12/1000283823.jpg" alt="Surat untuk Istriku"><p>Kepada Istriku, Elok H. Rusnindyo,</p><p>Sudah dua tahun menikah, sampai saat ini, aku masih canggung ketika ada seseorang tidur di sebelahku. Rasanya kasur jadi agak sempit.</p><p>Kemudian bertambah satu lagi manusia mungil yang menjajah area tengah.</p><p>Pelan-pelan aku tergusur. Pelan-pelan kugelar karpet di bawah. Tidur memeluki lantai. Seperti saat masa bujangku dulu.</p><p>Agaknya semakin tua, kita akan lebih banyak mengalah. Mengalah kepada nasib. Kepada rezeki. Kepada kehidupan. Begitu pun mengalah tidur di bawah.</p><p>Yang terpenting kalian berdua tidur dengan nyaman. Tanpa takut kena sikut atau tendang kakiku yang panjang-panjang ini.</p><p>Katakanlah, aku bisa menjadi apa pun di dunia ini. Menjadi api. Menjadi matahari. Atau daun yang gugur itu. Hanya satu yang selamanya aku tak akan bisa:</p><p>Menjadi dirimu. </p><p>Menjadi istri dan ibu dari anakku.</p><p>Yang mengandung, melahirkan, dan mengasuh anaknya dengan baik. Yang setia di kala suka maupun saat banyak buntungnya.</p><p>Menjadi teman diskusi apa pun, termasuk mau pesan grab/gofood apa. Penasehat keuangan yang uangnya sendiri entah di mana.</p><p>Emak yang maju pertama kali dan marah ketika ada yang berani menyelak antrean. Tukang pijat pribadi nomor satu di dunia. Barista kopi kapal api terandal, racikan kopi satu sendok-gula satu sendok.</p><p>Menjadi penyemangat hidupku yang entah tak ada artinya kalau tak ada dirimu.</p><p>Selamat ulang tahun, Ibu.</p><p>Dari kami yang mencintaimu ugal-ugalan,<br>Ayah dan Bestari.</p><p>Bima, 28 Juni 2024</p><hr><!--kg-card-begin: markdown--><p>&quot;Surat untuk Istriku&quot; adalah kumpulan surat yang aku kirimkan kepada istriku setiap tahun. Kami rajin menulis surat untuk satu sama lain setiap peringatan hari lahir kita.</p>
<!--kg-card-end: markdown-->]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Almari Ibu]]></title><description><![CDATA[Sampai sekarang pun kami selalu bertanya kepada ibu di mana baju-baju kami berada, dan ibu akan selalu menemukannya. Entah bagaimana jika tidak ada ibu. Mungkin kami semua sudah telanjang.]]></description><link>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/lemari/</link><guid isPermaLink="false">674c790ea645e501075111e9</guid><category><![CDATA[Cerita]]></category><dc:creator><![CDATA[Rendika F. Kurniawan]]></dc:creator><pubDate>Sun, 01 Dec 2024 15:23:40 GMT</pubDate><media:content url="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/12/2024_0904_11165300.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/12/2024_0904_11165300.jpg" alt="Almari Ibu"><p>Sejak kecil ibu yang mengatur lemari kami. Beliau yang menyimpan pakaian semua orang di rumah. Jadi, beliau tahu di mana pakaian-pakaian itu berada.</p><p>Sebagai anak kecil, rasanya amat sulit mencari baju di tumpukan pakaian yang setinggi langit itu. </p><p>Namun, buat ibu, semua seolah sudah diingat di luar kepala.</p><p>Dari sesederhana seragam sekolah sd putih&#x2014;merah milikku, hingga jika ada di dunia ini kaos kaki berwarna hijau tua agak kekuningan bergambar <em>hello kitty</em> naik bajaj di tol Jagorawi, ibu akan dengan mudah menemukannya.</p><p>Ketika aku pusing mencari jas almamater untuk ospek kuliah, ibu mencarikannya di lemari.</p><p>Ketika aku mencari pakaian hitam putih untuk melamar kerja, ibu yang menyiapkannya.</p><p>Ketika aku menikah, ibu yang menyimpankan jas hitam dan kemeja putihku dengan rapi.</p><p>Hanya ketika aku mengepak pakaian untuk pindah merantau dan meniti hidup baru, ibu seolah sulit untuk menemukannya.</p><p>Entah sulit mencari baju-baju itu di mana. Entah sulit merelakan sulungnya pergi.</p><p>Hingga kini masih menjadi misteri bagaimana ibu menguasai keahlian yang hampir mustahil dikerjakan orang biasa itu.</p><p>Bahkan, sedari masih kecil dan ingusan, sampai sebesar&#x2014;setua ini, aku masih bingung mencari baju di lemari.</p><p>Sampai sekarang pun kami selalu bertanya kepada ibu di mana baju-baju kami berada, dan ibu akan selalu menemukannya.</p><p>Entah bagaimana jika tidak ada ibu. Mungkin kami semua sudah telanjang.</p><p>Membayangkannya saja kami tak sanggup.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Mbok]]></title><description><![CDATA[Orang tua itu seperti Quran rusak. Dibaca tak bisa. Dibuang pun dosa. Kata-kata itu yang Mbok sampaikan padaku di hari-hari terakhirnya setahun lalu. Mbok adalah nenek kami.]]></description><link>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/mbok-tuo/</link><guid isPermaLink="false">66777552b4a4c30107172fea</guid><category><![CDATA[Cerita]]></category><dc:creator><![CDATA[Rendika F. Kurniawan]]></dc:creator><pubDate>Sat, 30 Nov 2024 03:16:24 GMT</pubDate><media:content url="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/11/DSCF4725.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote>&#x201C;Mbok iki koyo Al-Qur&apos;an bobrok. Diwoco ora keno. Dibuang ora iso&quot;</blockquote><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/11/DSCF4725.jpg" alt="Mbok"><p>Orang tua itu seperti Al-Qur&apos;an rusak. Dibaca tak bisa. Dibuang dosa. Kata-kata itu yang <em>Mbok</em> sampaikan padaku di hari-hari terakhirnya setahun lalu. </p><p><em>Mbok</em> adalah nenek kami.</p><p>Waktu itu, <em>Mbok</em> sudah sepuh. Usianya hampir seabad. Sudah tak bisa jalan dan pikun. Sehari-hari hanya terkulai di tempat tidur. </p><p>Sejak jatuh dari kamar mandi dan lumpuh, ibuku yang mengurusnya. Memberinya makan, merawat lukanya, hingga mencuci kencingnya saat buang air.<br><br><em>Mbok</em> punya anak banyak. Mengikuti kata orang-orang dahulu, banyak anak banyak rezeki.<br><br>Pekerjaannya hanya bakul keliling. Tiap hari keliling perumahan. Menjual apa saja hasil bumi dari kebun. </p><p>Kalau hari ini adanya kelapa, maka kelapa yang dijual. Kalau besok panen salak, maka hari itu <em>Mbok</em> bakul salak.<br><br>Tak perlu gelar tinggi-tinggi. Bermodalkan tekad dan keberanian, wanita dusun yang tak lulus SD itu mampu menghidupi tujuh orang anaknya.<br><br>Namun, segerlap apa pun kehidupannya dulu, hari-hari terakhir <em>Mbok</em> adalah sepi. Kawannya hanya tasbih dan dinding yang ia ajak bicara.<br><br>Anak-anaknya sering datang belakangan, tapi tak satu pun yang diingatnya.<br><br>Melihat <em>Mbok</em> membuatku merenung, &quot;seandainya seorang ibu bisa merawat 10 anak, apakah 10 anak bisa merawat seorang ibunya?&quot;.</p><p><em>Mbok</em> adalah pahlawan masa kecilku. Beliau menemani masa kanak-kanakku dulu. Mengajariku ngaji. Mengajarkan kerja keras. Mengajarkan arti kesederhanaan.<br><br>Aku ingat tiap minggu sepulangnya dari pasar, beliau selalu memberi jajan 500 rupiah. Uang koin kuning bergambar pohon kelapa.<br><br>Zaman masih SD, duit segitu sangat berharga. Bisa beli orson minuman manis warna-warni dan permen hot-hot pop sampai saku penuh.<br><br>Koin 500 itu selalu aku kenang, tetapi juga aku sesali, karena Mbok tak ada dan aku tak sempat membalasnya.<br><br>Janjiku membelikannya kain Jarik baru kalau aku sudah kerja nanti. Sekarang gaji 50 juta pun buat apa.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/11/Snapinsta.app_416524006_328491580098200_7292235346026749536_n_1080.jpg" class="kg-image" alt="Mbok" loading="lazy" width="1080" height="1080" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/11/Snapinsta.app_416524006_328491580098200_7292235346026749536_n_1080.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/11/Snapinsta.app_416524006_328491580098200_7292235346026749536_n_1080.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/11/Snapinsta.app_416524006_328491580098200_7292235346026749536_n_1080.jpg 1080w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>Mbok meninggalkan kami.</figcaption></figure><p>Di hari pemakaman, banyak yang datang melayat. Sampai rumah penuh dan tenda-tenda terpasang sepanjang jalan.<br><br>Banyak muka yang tak aku kenal. Namun, aku lega. Artinya banyak orang mengingatnya.<br><br>Mbok, semoga koin 500 yang tiap minggu kau berikan kepadaku dulu, menjadi celenganmu di surga nanti. (Rendika F. Kurniawan)</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Guru Ujang Berjuang untuk Kesetaraan]]></title><description><![CDATA[Ujang Kamaludin (43), seorang guru tunanetra mengajar di sekolah umum berjuang untuk kesetaraan penyandang disabilitas. Pesannya, semakin pendidikan itu inklusi, masyarakat akan semakin humanis.]]></description><link>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/kisah-guru-ujang-berjuang-untuk-kesetaraan/</link><guid isPermaLink="false">6663f65441a1d20107938352</guid><category><![CDATA[Photo story]]></category><dc:creator><![CDATA[Rendika F. Kurniawan]]></dc:creator><pubDate>Sat, 08 Jun 2024 06:44:35 GMT</pubDate><media:content url="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/06/IMG_0999.jpeg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote>&quot;Khoirunnas Anfauhum Linnas&#x2013;sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain&quot;</blockquote><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/06/IMG_0999.jpeg" alt="Guru Ujang Berjuang untuk Kesetaraan"><p>Saya selalu haru mendengar sepenggal kutipan ini. Terlebih saat kalimat itu diucapkan oleh Ujang Kamaludin (43), seorang guru tunanetra yang sedari lahir tak dikaruniai penglihatan.<br><br>Namun yang membuat saya lebih kagum adalah semangatnya untuk berbagi kepada sesama yang jauh melampaui seluruh keterbatasannya.</p><p>Ujang terpanggil menjadi guru. Tak mampu melihat, tetapi ia mampu memberikan ilmu kepada siswa-siswanya. </p><p>Saya pun bertanya kepada beliau alasan beliau melakukan ini disaat banyak keterbatasan. </p><p>&quot;Mas, saya ini sejak lahir sudah seperti ini. Orangtua saya cerita, saat saya masih umur 40 hari, mata rapet, ga bisa melihat. Namun di hati, saya tetap bahagia. Ini adalah amanah tuhan, untuk memberikan pelajaran, bagimana untuk menjadi manusia yang terbaik dan bermanfaat untuk sesama,&quot; kata Ujang saat ditemui di sela-sela waktu mengajarnya di SMK Negeri 1 Salam, Magelang.<br><br>Saya dasarnya cengeng. Setiap mendengar kisah serupa tak bisa menahan air mata. Namun, ketika melihat lagi Ujang dengan semangatnya, senyum saya mengembang kembali.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-width-full kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/06/IMG_1014.jpeg" class="kg-image" alt="Guru Ujang Berjuang untuk Kesetaraan" loading="lazy" width="1080" height="721" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/06/IMG_1014.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/06/IMG_1014.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/06/IMG_1014.jpeg 1080w"><figcaption>Ujang saat mengajar para siswanya di SMK Negeri 1 Salam, Magelang.</figcaption></figure><p>Seakan menepis semua keraguan dan melebur segala dinding pembatas, Ujang membuktikan dirinya mampu. </p><p>Ia berhasil menempuh pendidikannya dari SD, bahkan sampai meraih gelar S2. </p><p>Pendidikan SD hingga SMP di Bandung ditempuhnya sampai lulus. Ia melanjutkan pendidikan ke Madrasah Aliyah Maguwoharjo pada 1993. </p><p>Selepas lulus Aliyah, Ujang diterima di Universitas Islam Indonesia, jurusan Tarbiyah, Fakultas Agama Islam, lulus dengan beasiswa pada 1996.</p><p>Seakan tak cukup, ia melanjutkan lagi pendidikan S2 di kampus yang sama dan menyelesaikannya selama kurang dari dua tahun di 2002. </p><p>Ia kemudian mendaftarkan diri sebagai guru di Kementerian Agama dan diterima.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-width-wide kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/06/IMG_1011.jpeg" class="kg-image" alt="Guru Ujang Berjuang untuk Kesetaraan" loading="lazy" width="1080" height="721" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/06/IMG_1011.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/06/IMG_1011.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/06/IMG_1011.jpeg 1080w"><figcaption>Ujang selalu menekankan kepada siswanya bahwa semakin pendidikan itu inklusi, masyarakat akan semakin humanis. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>Awal karir mengajarnya dari SLB Ma&apos;arif selama tiga tahun, kemudian dipindah ke SMK Sholikhah Muntilan, dan terakhir di SMK Negeri 1 Salam.</p><p>&quot;Total sudah 15 tahun saya menjadi seorang guru, dan tak pernah ada merasakan lelah, capek, atau apa. Saya senang mengajar, dan ada rasa bahagia ketika saya mengajar anak-anak,&quot; tuturnya.</p><p> Ia bercerita kalau awalnya susah jadi guru di sekolah umum. Ia perlu menyesuaikan medan di sekolah, letak ruang kelas, posisi papan tulis, pintu dan kursi siswa. </p><p>&quot;Ya kadang kejedot pintu, nabrak meja haha. Yang salah mejanya, ada orang lewat kok ga minggir,&quot; kata Ujang terkekeh.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-width-full kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/06/IMG_1013.jpeg" class="kg-image" alt="Guru Ujang Berjuang untuk Kesetaraan" loading="lazy" width="1080" height="721" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/06/IMG_1013.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/06/IMG_1013.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/06/IMG_1013.jpeg 1080w"><figcaption>Ujang telah lama berlatih menulis di papan tulis mengandalkan seluruh indra selain penglihatannya. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>Istrinya Ari Titik Handayani (42) setia menemani ke mana pun Ujang pergi.</p><p>Ia menyiapkan sarapan di pagi hari, menyetrika dan memakaikan seragam Ujang. Ia juga mengantarkannya ke sekolah setiap hari dari Sleman ke SMK 1 Salam di Magelang. </p><p>Titik juga menemani dan membantu selama ia mengajar di kelas. </p><p>&quot;Bapak itu baik, romantis, itu yang menjadikan saya mencintai bapak. Meskipun tak dapat melihat, saya menerima bapak apa adanya. Saya tak pernah lelah, ngurusin bapak kemana mana, itu sudah kewajiban saya menjadi seorang istri,&quot; tutur Ari.</p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide kg-card-hascaption"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/06/IMG_1012.jpeg" width="1080" height="721" loading="lazy" alt="Guru Ujang Berjuang untuk Kesetaraan" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/06/IMG_1012.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/06/IMG_1012.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/06/IMG_1012.jpeg 1080w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/06/IMG_1010.jpeg" width="1080" height="721" loading="lazy" alt="Guru Ujang Berjuang untuk Kesetaraan" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/06/IMG_1010.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/06/IMG_1010.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/06/IMG_1010.jpeg 1080w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div></div></div><figcaption>Kegiatan Ujang saat mengajar siswanya di SMK Negeri 1 Salam Magelang.(Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><blockquote>Kata Ujang, semakin pendidikan itu inklusi, masyarakat akan semakin humanis.</blockquote><p>&quot;Bukan ngasi hak atau kasihan kepada difabel, tetapi kita ini masyarakat yang plural, kalau mau membangun masyarakat ya dimulai dari masyarakat inklusif,&quot; pungkasnya.</p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Sang Nippon Pembela Republik]]></title><description><![CDATA[Kisah Mitsuyuki Tanaka, seorang tentara pendudukan Jepang di Indonesia, membelot dari negaranya dan memilih membela tanah yang dijajahnya sendiri.]]></description><link>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/nippon-yang-membela-tanah-jajahannya/</link><guid isPermaLink="false">6624f48416868b0107f28204</guid><category><![CDATA[Photo story]]></category><dc:creator><![CDATA[Rendika F. Kurniawan]]></dc:creator><pubDate>Mon, 22 Apr 2024 12:46:43 GMT</pubDate><media:content url="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-3024.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-3024.jpg" alt="Sang Nippon Pembela Republik"><p>Tanaka tahu, segera setelah ia beranjak dari tanah kelahirannya, ia mungkin tak dapat pulang. Perang adalah satu tiket pergi, tanpa tiket untuk kembali.</p><p>Takdir pun membawanya pergi jauh ke Indonesia. Tanah yang kelak dia bela hingga ujung hidupnya.</p><p>Kisah keteguhan hati datang dari Mitsuyuki Tanaka, seorang tentara pendudukan Jepang di Indonesia. Ia membelot dari negaranya dan lebih memilih membela tanah yang dijajahnya.</p><p>6 dan 9 Agustus 1945, bom atom meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Tak lama sesudahnya, Jepang menyerah kepada sekutu pada 14 Agustus 1945.</p><p>Tanaka saat itu baru tiga tahun bertugas di Indonesia. Namun, tanda akhir kekuasaan Jepang sudah terpampang di depan mata.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-1701.jpg" class="kg-image" alt="Sang Nippon Pembela Republik" loading="lazy" width="2000" height="1125" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/FujifilmX100F-1701.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/FujifilmX100F-1701.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/04/FujifilmX100F-1701.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w2400/2024/04/FujifilmX100F-1701.jpg 2400w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>Sugiyon, putra Tanaka, memegang foto dan memperlihatkan seragam, katana, dan topi tentara milik ayahnya. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><h2 id="seppuku">Seppuku</h2><p>Panglima Besar ke-16 Tentara Jepang Mayor Jenderal Mabuchi meminta seluruh tentara kembali ke Jepang hingga 15 Juni 1946. Tak terkecuali Tanaka.</p><p>Sekutu meminta tentara Jepang segera meninggalkan Indonesia paling lambat Mei 1946. Jika tidak, mereka akan dihukum mati.</p><p>Banyak rekan sesama prajurit menolak perintah Mabuchi. Tak sedikit juga yang mengakhiri hidupnya demi kehormatan daripada kalah di medan perang.</p><p>Tetapi Tanaka tahu penderitaan rakyat Indonesia di bawah penjajahan Jepang.</p><p>Sebagai tentara, mereka semua yang ada di depan moncong senjata adalah musuh. Tetapi sebagai manusia, perang hanya akan membawa penderitaan.</p><blockquote>&quot;Daripada saya bunuh diri, tak ada artinya. Daripada mati konyol, lebih baik saya membantu Indonesia. Saya bersumpah mati. Nyawa tak lagi ada harganya kecuali Indonesia merdeka,&quot; tutur Sugiyon mengenang ayahnya.</blockquote><p></p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide kg-card-hascaption"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-3024-3.jpg" width="1701" height="3024" loading="lazy" alt="Sang Nippon Pembela Republik" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/FujifilmX100F-3024-3.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/FujifilmX100F-3024-3.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/04/FujifilmX100F-3024-3.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-3024-3.jpg 1701w" sizes="(min-width: 1200px) 1200px"></div></div></div><figcaption>Seragam Tanaka yang masih disimpan oleh keluarganya. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><h2 id="soetoro">Soetoro</h2><p>Tanaka menuruti panggilan hatinya untuk membela Indonesia. Ia mengganti namanya menjadi Soetoro dan bergabung dengan BKR (Badan Keamanan Rakyat).</p><p>Soetoro bertugas di Magelang di bawah komando Letnan Kolonel Sarbini dengan pangkat Sersan.</p><p>Kiprah Tanaka bertempur di berbagai medan pertempuran. Pahit getir ia rasakan dan banyak kisah kepahlawanannya yang heroik. </p><p>Seperti saat ia harus memanjat Watertoren untuk menembaki pesawat yang menyerang pejuang Magelang.</p><p>Dia juga ikut andil dalam peristiwa Palagan Ambarawa, meski sempat tertembak di bagian dada hingga tembus ke belakang, tetapi ia selamat.</p><p>Ia terus berjuang untuk NKRI dan menjadi tentara sampai 1974. </p><p>Terakhir berpangkat Mayor, Tanaka pensiun dan mendapatkan pangkat kehormatan Letnan Kolonel.</p><p>Piagam Bintang Gerilya dari Presiden Sukarno diberikan pada 10 November 1958.</p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide kg-card-hascaption"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-50-2.jpg" width="2000" height="3556" loading="lazy" alt="Sang Nippon Pembela Republik" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/FujifilmX100F-50-2.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/FujifilmX100F-50-2.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/04/FujifilmX100F-50-2.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-50-2.jpg 2268w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-3024-2.jpg" width="1701" height="3024" loading="lazy" alt="Sang Nippon Pembela Republik" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/FujifilmX100F-3024-2.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/FujifilmX100F-3024-2.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/04/FujifilmX100F-3024-2.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-3024-2.jpg 1701w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div></div></div><figcaption>Piagam tanda jasa yang diterima oleh Soetoro sebagai veteran. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><h2 id="soeparti">Soeparti</h2><p>Seperti kecintaannya dengan tanah yang ditinggalinya, Tanaka jatuh hati pada gadis pribumi.</p><p>Pria kelahiran Takayama, Gifu, 10 Oktober 1921 itu menikah dengan gadis asal Salaman, Magelang bernama Suparti pada 1948.</p><p>Soetoro dan Soeparti jatuh cinta karena sering bertemu. </p><p>Ceritanya, Soeparti sering membawakan bekal makanan untuk para pejuang di Magelang. Dari sana benih-benih cinta itu muncul.</p><p>Dari pernikahan ini mereka dikaruniai 11 anak.</p><p>Pada 1 Agustus 1998, Sutoro meninggal dunia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Giri Dharmoloyo Magelang.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-50.jpg" class="kg-image" alt="Sang Nippon Pembela Republik" loading="lazy" width="2000" height="1500" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/FujifilmX100F-50.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/FujifilmX100F-50.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/04/FujifilmX100F-50.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w2400/2024/04/FujifilmX100F-50.jpg 2400w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>Sugiyon Tanak, anak dari Mitsuyuki Tanaka alias Soetoro. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><h2 id="jangan-jadi-tentara">Jangan jadi tentara</h2><p>Tanaka berpesan kepada anaknya untuk tak menjadi tentara saat tidak ada perang.</p><p>Namun, saat negara membutuhkan, tak perlu dipanggil, ajukan diri, kemudian bela tanah air dengan seluruh jiwa dan raga.</p><!--kg-card-begin: markdown--><p>Eiichi Hayashi dalam bukunya yang berjudul &#x2018;Mereka yang Terlupakan: Memoar Rahmat Shigeru Ono, Bekas Tentara Jepang yang Memihak Republik&#x2019; (2011) menyebutkan, berdasarkan data Yayasan Warga Persahabatan (YWP), seusai Perang Dunia II, tercatat 903 orang bekas tentara Jepang ikut perang kemerdekaan RI.</p>
<p>Dari jumlah itu, 288 orang (32 persen) hilang, 243 orang (27 persen) gugur dalam perang, dan 45 orang (5 persen) kembali ke Jepang pada 1950. Sisanya, 342 orang (36 persen) memilih tetap tinggal di Indonesia sebagai warga negara Indonesia.**</p>
<!--kg-card-end: markdown--><p>(Teks dan foto oleh Rendika Ferri K)</p><p> </p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi]]></title><description><![CDATA[Atas nama tradisi, joki cilik terus lestari. Namun, tak jarang tradisi mengorbankan mimpi dan masa kecil para penunggangnya. Sebuah cerita foto dari joki cilik Bima, NTB.]]></description><link>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/joki-cilik-bima-atas-nama-tradisi/</link><guid isPermaLink="false">661f02e0fba02d0107e15b66</guid><category><![CDATA[Photo story]]></category><dc:creator><![CDATA[Rendika F. Kurniawan]]></dc:creator><pubDate>Wed, 17 Apr 2024 07:21:15 GMT</pubDate><media:content url="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0915.jpeg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0915.jpeg" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi"><p>Anak-anak itu masih kecil. Mungkin usianya baru lima tahun. Bisa jadi lebih muda daripada itu. </p><p>Bermodalkan helm dan memakai masker hitam, mereka menaiki kuda tanpa pelana yang dua kali tingginya. </p><p>Dengan sigap bergegas masuk ke bilik-bilik besi di garis <em>start. </em>Bersiap beradu cepat dengan pejoki kuda lainnya.</p><p>Sementara di podium, penonton bersorak menyemangati kuda jagoannya. Tak hanya balapan yang membuat mereka bersemangat, tapi juga apa yang dipertaruhkan.</p><p>Pemandangan ini biasa terlihat di arena pacuan kuda di Panda, Bima, Nusa Tenggara Barat setiap Minggu pagi. </p><p>Para joki cilik, sebutan untuk anak-anak penunggang kuda, datang dari berbagai penjuru untuk mengadu kuda-kudanya.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0931.jpeg" class="kg-image" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" loading="lazy" width="750" height="500" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0931.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0931.jpeg 750w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>Joki remaja di masa lalu. (Museum Samapraja Bima)</figcaption></figure><p>Pacuan Kuda atau dalam bahasa Mbojo atau Bima disebut <em>Pacoa Jara </em>atau<em> Pacu Mbojo, </em>sudah ada sejak 1927 pada masa pemerintahan Hindia Belanda, dikutip dari <a href="https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail=&amp;detailTetap=382&amp;ref=rendikaferrikurniawan.fly.dev"><em><strong>Kemdikbud</strong></em></a>.</p><p>Awalnya, olahraga ini diselenggarakan untuk menghormati hari kelahiran Ratu Wilhelmina. </p><p>Di masa itu, mereka cenderung menggunakan para joki remaja dalam perlombaan. </p><p>Namun, dalam perkembangannya, para penunggang atau joki pada Pacoa Jara di Bima beralih menjadi anak-anak. </p><p>Rata-rata, para joki cilik berusia relatif muda, yakni 5-12 tahun.</p><p>Perayaan menjadi tradisi. Tradisi menjadi kebiasaan. Joki cilik menjadi bagian yang tak bisa terpisahkan dari masyarakat dan pacuan kuda Bima.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-width-full kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0916.jpeg" class="kg-image" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" loading="lazy" width="1280" height="853" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0916.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/IMG_0916.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0916.jpeg 1280w"><figcaption>Para joki cilik bertolak dari garis start menunggangi kudanya beradu cepat di arena Pacoa Jara Panda, Bima, NTB. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>Banyak faktor yang mendorong fenomena joki cilik ini. Utamanya adalah faktor ekonomi. </p><p>Rata-rata masyarakat Bima menggantungkan hidupnya sebagai petani atau nelayan.</p><p>Sementara pendapatan sebagai petani dan nelayan tak dapat diandalkan sebagai pendapatan utama. Bergantung pada musim dan gelombang yang tak tentu.</p><p>Joki cilik pun menjadi salah satu profesi alternatif karena potensi pendapatannya yang besar untuk sekali balapan.</p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide kg-card-hascaption"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0918.jpeg" width="1280" height="853" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0918.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/IMG_0918.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0918.jpeg 1280w" sizes="(min-width: 1200px) 1200px"></div></div></div><figcaption>Para joki cilik berlomba menjadi yang tercepat di arena pacuan kuda Panda, Bima, NTB, meski dengan peralatan keamanan yang minim. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>Masyarakat Bima sendiri dikenal akan budayanya yang kaya. Mereka menjunjung tinggi tradisi nenek moyang mereka yang turun temurun, termasuk pacuan kuda ini.</p><p>Menjadi joki cilik pun menjadi satu kebanggaan, karena selain alasan tradisi, profesi ini bisa mengangkat derajat perekonomian keluarga.</p><p>Tetapi, keberadaan joki cilik juga membawa implikasi lain yang tak terelakkan. </p><p>Pro kontra yang terjadi adalah keberadaan joki cilik berpotensi mengeksploitasi dan membuat hak-hak dasar anak menjadi terabaikan. </p><p>Anak-anak yang seharusnya menikmati masa kecil mereka dan duduk di bangku pendidikan. Namun, waktu mereka tersita untuk menggeluti tradisi tersebut.</p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide kg-card-hascaption"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0919.jpeg" width="1280" height="853" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0919.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/IMG_0919.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0919.jpeg 1280w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0921.jpeg" width="1280" height="853" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0921.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/IMG_0921.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0921.jpeg 1280w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div></div><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0923.jpeg" width="1280" height="853" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0923.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/IMG_0923.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0923.jpeg 1280w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0920.jpeg" width="1280" height="853" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0920.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/IMG_0920.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0920.jpeg 1280w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div></div></div><figcaption>Potret para joki cilik di arena pacuan kuda Panda Bima NTB. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>Belum lagi soal faktor risiko. Selama pertandingan, acap kali para joki hanya mengenakan peralatan keamanan atau alat pelindung diri (APD) yang seadanya.</p><p>Membuat potensi risiko kecelakaan saat perlombaan kian tinggi. Kasus joki cilik yang tewas di arena pacuan pun terus terjadi. </p><p>Yang terbaru seorang joki cilik berinisial AB (12) di Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) tewas di arena pacuan pada Minggu (13/8/2023), dikutip dari pemberitaan <em><a href="https://regional.kompas.com/read/2023/08/16/065158078/kematian-joki-cilik-di-bima-dan-hak-anak-yang-diabaikan?page=all&amp;ref=rendikaferrikurniawan.fly.dev">Kompas.com</a></em></p><p>Korban tewas setelah mengalami pendarahan di otak akibat jatuh terpental di jalur lintasan. Ia disebut tidak mengenakan APD dan pelindung badan (body protector).</p><p>Arena pacuan kuda ditutup sementara, tetapi praktiknya tak berhenti.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-width-full kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0922.jpeg" class="kg-image" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" loading="lazy" width="1280" height="854" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0922.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/IMG_0922.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0922.jpeg 1280w"><figcaption>Seorang joki cilik yang terhimpit di bilik start bersiap melajukan kudanya di arena pacuan kuda Panda, Bima, NTB. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>Anak sekecil itu mengendalikan kuda yang melaju kencang tanpa APD yang memadai tentu amatlah berisiko. Itu langsung terjawab di lapangan.</p><p>Insiden joki cilik ini sempat terdokumentasikan saat latihan di arena pacuan kuda Panda Bima NTB, pada Minggu (14/4/2024) lalu. </p><p>Kejadian itu terjadi begitu cepat, tetapi bisa tertangkap rana kamera.</p><p>Mulanya, kuda yang dikendarai joki mengamuk dan mencoba kabur dengan melewati pagar arena. </p><p>Namun, malangnya kuda itu menabrak pagar kayu yang cukup keras. Kayu pembatas itu patah.</p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide kg-card-hascaption"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0932.jpeg" width="679" height="453" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0932.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0932.jpeg 679w"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0933.jpeg" width="1024" height="683" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0933.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/IMG_0933.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0933.jpeg 1024w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div></div><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0934.jpeg" width="679" height="453" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0934.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0934.jpeg 679w"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0935.jpeg" width="679" height="453" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0935.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0935.jpeg 679w"></div></div></div><figcaption>Insiden kecelakaan joki cilik di arena pacuan kuda di Panda, Bima, NTB. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>Sementara kepala joki terbentur dan kemungkinan besar mendapatkan memar. Beruntung, ia mengenakan helm saat itu.</p><p>Seakan tak terjadi apa-apa, setelah insiden itu joki cilik tetap lanjut tampil di arena.</p><p>Pacoa Jara menjadi salah satu daya tarik wisata utama di NTB, termasuk di Bima. Pacoa Jara juga telah menjadi warisan budaya dari Bima. </p><p>Bahkan, menjadi event tahunan yang turut mendorong pariwisata dan pendapatan daerah.</p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide kg-card-hascaption"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0929.jpeg" width="1280" height="853" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0929.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/IMG_0929.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0929.jpeg 1280w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0927-1.jpeg" width="1280" height="853" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0927-1.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/IMG_0927-1.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0927-1.jpeg 1280w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div></div><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0928.jpeg" width="1280" height="853" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0928.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/IMG_0928.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0928.jpeg 1280w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0925.jpeg" width="1280" height="853" loading="lazy" alt="Joki Cilik: Berlari Atas Nama Tradisi" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/IMG_0925.jpeg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/IMG_0925.jpeg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/IMG_0925.jpeg 1280w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div></div></div><figcaption>Potret para joki cilik di arena pacuan kuda Panda, Bima, NTB. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p></p><p>Namun, solusi dari berbagai pihak termasuk pemerintah sangat diperlukan untuk menyikapi fenomena joki cilik ini. </p><p>Pacuan kuda perlu terus berjalan dan tradisi memang perlu lestari, tetapi hak-hak anak juga wajib dilindungi.</p><p><strong>(Teks dan foto oleh Rendika Ferri Kurniawan)</strong></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Badut Salamun, Miliarder yang Duafa]]></title><description><![CDATA[Kisah Badut Salamun menggeluti profesi yang tak semua orang cita-citakan. Menjadi cameo di antara jutaan pemeran utama. Terpinggirkan ekonomi dan kelas sosial.]]></description><link>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/badut-miliarder-salamun/</link><guid isPermaLink="false">64daf4511b0d2c0107cbdba5</guid><category><![CDATA[Photo story]]></category><dc:creator><![CDATA[Rendika F. Kurniawan]]></dc:creator><pubDate>Sat, 06 Apr 2024 16:21:58 GMT</pubDate><media:content url="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08183200-2.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08183200-2.jpg" alt="Badut Salamun, Miliarder yang Duafa"><p>Sedari kecil, kita biasa diminta orang dewasa menjelaskan cita-cita kita saat besar nanti.</p><p>Ada yang mau menjadi tentara. Ada yang mau menjadi pilot. Ada juga yang ingin menjadi dokter.</p><p>Namun, ketika ditanya, &quot;siapa yang mau menjadi badut?&quot;, tak satu pun mengangkat tangannya. </p><p>Kecuali satu bocah berusia 10 tahun kala itu. Bocah itu bernama Salamun. </p><p>Anak itu dengan berani menantang ide orang banyak tentang cita-cita yang ideal, bahwa untuk menjadi orang sukses, kau harus menyandang profesi tertentu.</p><p>Hal itu tidak berlaku buat Salamun. Ia sejak kecil memang ingin menjadi badut. </p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/cats.jpg" class="kg-image" alt="Badut Salamun, Miliarder yang Duafa" loading="lazy" width="1001" height="334" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/cats.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/cats.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/cats.jpg 1001w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>Salamun bersiap untuk menghibur sebagai badut. Akhir-akhir ini undangan sepi akibat wabah yang menyerang beberapa waktu lalu. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>Pagi-pagi, saya mendatangi rumahnya yang ada di dalam gang permukiman padat penduduk di Kota Magelang. </p><p>Rumahnya hanya rumah kecil yang ruang tamunya hanya berjarak sejengkal kaki dengan tembok rumah sebelah. Ia tinggal dengan kakaknya di rumah sepetak itu.</p><p>Waktu itu dia sedang duduk di depan rumahnya sesaat saya menghampirinya.</p><p>&quot;Monggo mas, masuk saja,&quot; katanya basa-basi. Ia mengajak saya ke dalam. Hanya ada sofa yang sudah usang dan barang-barang yang bertumpuk.</p><p>Pria berusia 54 tahun itu terlihat bersahaja. Pakaiannya sederhana, seperti bapak-bapak pada umumnya. Mungkin sedikit yang menyangka beliau badut.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08174900.jpg" class="kg-image" alt="Badut Salamun, Miliarder yang Duafa" loading="lazy" width="1776" height="1184" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/FujifilmX100F-08174900.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/FujifilmX100F-08174900.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/04/FujifilmX100F-08174900.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08174900.jpg 1776w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>Salamun, Badut Miliarder, sehari-hari tinggal di dalam sebuah rumah kecil di gang sempit di Kota Magelang. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>&quot;Mau kopi mas atau teh?&quot; sambutnya ramah. Saya menolak dengan halus, karena tak ingin bikin repot.</p><p>Sembari kita ngobrol, dia pun mulai bercerita tentang profesinya. Ternyata ia sudah menyukai badut sejak usia 10 tahun. </p><p>Berbekal kegemarannya itu, dia berkarya hingga sekarang.</p><p>Sebelumnya, ia pernah bekerja jadi baby sister dan merawat tiga orang anak. Lalu, ia memutuskan jadi badut hingga sekarang usianya sudah 54 tahun.</p><p>&quot;Saya jadi badut udah lama, udah berapa tahun ya. Semenjak ada Inul Daratista, keluar goyang ngebor itu keluar. Saya jadi badut belum terkenal, cuma panggung dikasih Rp 5 ribu, Rp 10 ribu, kalau manggung saya terima,&quot; tutur lelaki paruh baya ini.</p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide kg-card-hascaption"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08185700-1.jpg" width="1776" height="1184" loading="lazy" alt="Badut Salamun, Miliarder yang Duafa" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/FujifilmX100F-08185700-1.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/FujifilmX100F-08185700-1.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/04/FujifilmX100F-08185700-1.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08185700-1.jpg 1776w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08190200.jpg" width="1776" height="1184" loading="lazy" alt="Badut Salamun, Miliarder yang Duafa" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/FujifilmX100F-08190200.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/FujifilmX100F-08190200.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/04/FujifilmX100F-08190200.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08190200.jpg 1776w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div></div></div><figcaption>Salamun bercerita dulu awal-awal pentas hanya dibayar Rp 5.000 saja. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>Mengapa menjadi badut? Salamun mengatakan ini sudah menjadi keputusannya sejak awal. Oleh karena itu, ia menjalaninya dengan suka hati.</p><p>Badut, profesi yang tak semua orang cita-citakan. Cameo di antara jutaan pemeran utama. Terpinggirkan oleh ekonomi dan kelas sosial.</p><p>Namun, baginya panggilan hati lebih penting.</p><p>Dulu, ia sempat ingin menjadi tabib, karena suka mengobati orang yang sakit. </p><p>Tapi menjadi badut pun sama. Dengan caranya ia mengobati. Menghibur hati anak-anak yang sedih. Menghibur orang-orang sekitarnya.</p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08185100.jpg" width="1776" height="1184" loading="lazy" alt="Badut Salamun, Miliarder yang Duafa" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/FujifilmX100F-08185100.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/FujifilmX100F-08185100.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/04/FujifilmX100F-08185100.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08185100.jpg 1776w" sizes="(min-width: 1200px) 1200px"></div></div></div></figure><p>Meski penghidupannya tak banyak, Salamun mencukupkan diri. Melihat orang yang dihiburnya bahagia, itu sudah cukup membuatnya bahagia.</p><p>Tak perhitungan. Kadang-kadang, ia juga menerima panggilan dengan bayaran semampunya.</p><p>Kalau tetangga sekitar, ia bahkan bisa berpentas secara cuma-cuma.</p><p>&quot;Semisal, pak aku punya dana Rp200 ribu, nggak apa-apa. Nanti saya buat sulap Rp 100 ribu, nanti yang nganteri saya kasih Rp 50 ribu, nanti yang Rp 25 ribu tak bagi-bagikan ke anak-anak, saya untung Rp 25 ribu buat ganti wedak,&quot; kata Salamun.<br><br>&quot;Kalau tetangga sini? Nggak usah bayar. Jadi biasanya tak usah bayar. Kasih 100, tapi buat hadiah buat anak-anak,&quot; tambahnya.</p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08181100.jpg" width="1664" height="1664" loading="lazy" alt="Badut Salamun, Miliarder yang Duafa" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/FujifilmX100F-08181100.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/FujifilmX100F-08181100.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/04/FujifilmX100F-08181100.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08181100.jpg 1664w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08182900.jpg" width="1664" height="1664" loading="lazy" alt="Badut Salamun, Miliarder yang Duafa" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/FujifilmX100F-08182900.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/FujifilmX100F-08182900.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/04/FujifilmX100F-08182900.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08182900.jpg 1664w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08191300.jpg" width="1664" height="1664" loading="lazy" alt="Badut Salamun, Miliarder yang Duafa" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/04/FujifilmX100F-08191300.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/04/FujifilmX100F-08191300.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/04/FujifilmX100F-08191300.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/04/FujifilmX100F-08191300.jpg 1664w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div></div></div></figure><p>Waktu pandemi kemarin Salamun dan tukang-tukang lain sempat tiarap.</p><p>Mereka harus libur karena sepi orderan dan terpaksa harus banting setir, demi mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari.</p><p>Salamun pun menjajal berjualan kembang hias kertas buat memenuhi kebutuhan sehari-hari.</p><p>Meski sulit, ia bertahan. Hinggga sekarang.</p><p>Salamun pun tak tahu sampai kapan mau menggeluti profesi ini. Mungkin sampai namanya bisa menjadi kenyataan. Badut Miliarder.</p><p>Yang jelas panggilan hatinya ada di sini, dan ia tak perlu mencarinya ke mana-mana lagi.</p><p>(Teks dan foto oleh Rendika Ferri K)</p><p>Artikel ini juga telah tayang di <a href="https://jogja.tribunnews.com/2020/08/13/kisah-tukang-badut-di-kota-magelang-yang-banting-stir-jadi-penjual-kembang-hias-di-tengah-pandemi?ref=rendikaferrikurniawan.fly.dev">https://jogja.tribunnews.com/2020/08/13/kisah-tukang-badut-di-kota-magelang-yang-banting-stir-jadi-penjual-kembang-hias-di-tengah-pandemi</a></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Bengkel Dokar Terakhir]]></title><description><![CDATA[Dokar, kereta kuda beroda dua yang beranjak punah. Selama 50 tahun, Darmo Margono menjadi juru dokar dan bertahan sampai saat ini. Kini, ia menjadi pemugar dokar terakhir di Kota Magelang.]]></description><link>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/bengkel-dokar-terakhir/</link><guid isPermaLink="false">66082475507b660107995a02</guid><category><![CDATA[Photo story]]></category><dc:creator><![CDATA[Rendika F. Kurniawan]]></dc:creator><pubDate>Sun, 31 Mar 2024 14:39:41 GMT</pubDate><media:content url="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-14440800-1.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-14440800-1.jpg" alt="Bengkel Dokar Terakhir"><p>Saya ingat terakhir kali menaiki dokar adalah saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak. </p><p>Nenek yang kala itu mengajak saya pergi ke pasar menunggangi kereta kuda beroda dua itu.</p><p>Puluhan tahun berlalu, yang saya tahu kendaraan tradisional itu telah hilang. Begitu pula orang-orang yang menggantungkan hidup darinya.</p><p>Namun, Darmo Margono (70) menolak punah. Ia kini menjadi satu-satunya orang yang tersisa yang menjadi &#xA0;pemugar dokar terakhir di Kota Magelang.</p><p>Ditemui di workshop miliknya di Juranggombo Selatan, Kota Magelang, Jawa Tengah, Darmo bercerita tentang bengkel dokar yang tersisa itu.</p><figure class="kg-card kg-image-card"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-14455500.jpg" class="kg-image" alt="Bengkel Dokar Terakhir" loading="lazy" width="1776" height="1184" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-14455500.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/03/FujifilmX100F-14455500.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/03/FujifilmX100F-14455500.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-14455500.jpg 1776w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></figure><p>Bengkel itu konon sudah ada sejak 1921, diwariskan dari kakeknya di Ambarawa, kemudian kepada ayahnya, dan diteruskan oleh Darmo hingga sekarang.</p><p>Seperti kekayaan yang diwariskan, orang-orang dahulu juga kerap mewariskan keahliannya kepada penerusnya.</p><p>Darmo sendiri sudah berprofesi sebagai juru perbaikan Dokar sejak tahun 1970 silam. Hampir setengah abad lebih.</p><p>&quot;Sejak kecil, saya sudah belajar menjadi juru perbaikan dokar. Saya belajar langsung dengan orang tua saya. Mulai tahun 1970 membantu orangtua sampai sekarang,&#x201D; tuturnya.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-14442000.jpg" class="kg-image" alt="Bengkel Dokar Terakhir" loading="lazy" width="1776" height="1184" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-14442000.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/03/FujifilmX100F-14442000.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1600/2024/03/FujifilmX100F-14442000.jpg 1600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-14442000.jpg 1776w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>Darmo mengecek bagian roda dokar, memastikannya agar mampu bekerja dengan baik. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>Saat masih berjaya, bengkel dokarnya tak pernah sepi dari pelanggan. Ia dibantu oleh tiga orang pekerjanya untuk memperbaiki dokar-dokar yang rusak. </p><p>Namun, seiring perkembangan zaman, transportasi modern bermunculan dan menggusur kendaraan yang telah uzur itu. </p><p>Jumlah pelanggan bengkel kian menyusut. Kini, hanya segelintir saja yang memperbaiki dokar di bengkelnya. Dia bekerja sendiri. </p><p>Bengkel dokar lain di Magelang perlahan hilang satu per satu yang hanya menyisakan bengkel Darmo. Satu-satunya di Magelang.</p><p>&quot;Dulu, bengkel ramai. 10-15 dokar tiap hari saya hitung ada. Ada tiga rekan yang juga membantu, tetapi sejak lima tahun terakhir ini, saya bekerja sendiri. Ya bagaimana, sudah sedikit sekali yang memperbaiki dokar. Dokar juga sudah semakin berkurang. Hanya satu atau dua saja,&quot; tutur Darmo.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-width-wide kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-247-3.jpg" class="kg-image" alt="Bengkel Dokar Terakhir" loading="lazy" width="1080" height="720" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-247-3.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/03/FujifilmX100F-247-3.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-247-3.jpg 1080w"><figcaption>Darmo masih mempertahankan cara tradisional untuk memperbaiki dokar.</figcaption></figure><p>Meski pelanggan berkurang, Darmo berusaha keras menghidupkan perapian. Saban hari ia menempa besi agar bengkelnya masih terus bertahan. </p><p>Sebagai artisan, ia paham betul apa yang ia lakukan. Segala macam perbaikan, mulai dari perbaikan roda, as, per, kursi, hingga bagian lainnya, ia cakap.</p><p>Darmo pun masih mempertahankan cara tradisional untuk memperbaiki dokar. Bahkan, peralatan tukang yang dipakainya merupakan peninggalan dari orang tuanya dulu. </p><p>Jika dirunut mungkin seumuran dengannya atau bahkan lebih tua.</p><p>Kayu yang digunakan untuk memperbaiki dokar menggunakan kayu jati. Ban dokar terbuat dari karet bekas ban mobil yang telah diiris. </p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-264.jpg" width="1080" height="720" loading="lazy" alt="Bengkel Dokar Terakhir" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-264.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/03/FujifilmX100F-264.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-264.jpg 1080w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-265.jpg" width="1080" height="720" loading="lazy" alt="Bengkel Dokar Terakhir" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-265.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/03/FujifilmX100F-265.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-265.jpg 1080w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div></div></div></figure><p>Cara perbaikan tradisional, tetapi tetap mendapat sentuhan modern. &#xA0;Darmo menggunakan blower listrik berusia tua untuk meniup angin di perapian, tempat menempa besi.</p><p>Baut dokar memiliki bentuk khusus sehingga ia bikin sendiri menggunakan mesin bubut. Tarif perbaikannya bervariasi tergantung dengan jenis kerusakannya.</p><p> Pembuatan dokar baru juga bisa dipesan di bengkel Darmo, meski sudah lama sejak ia membuatkan pesanan dokar baru.</p><p>&quot;Dokar yang diperbaiki masih dipakai. Dokar itu berasal dari wilayah Salaman dan Borobudur, Kabupaten Magelang. Ada juga dari Parakan, Ngadirejo dan Temanggung, Kabupaten Temanggung,&quot; kata Darmo.</p><figure class="kg-card kg-image-card"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-268.jpg" class="kg-image" alt="Bengkel Dokar Terakhir" loading="lazy" width="1080" height="720" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-268.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/03/FujifilmX100F-268.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-268.jpg 1080w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></figure><p>Darmo mengatakan, dirinya masih akan membuka bengkel dokar miliknya. </p><p>Meski kini ia telah kepala tujuh, ia mendapatkan perasaan bahagia memperbaiki dokar yang rusak menjadi baik kembali. Hatinya telah tertambat di sana sejak lama.</p><p>Anak-anak Darmo tak meneruskan pekerjaannya dan lebih memilih merantau di Jakarta. Mungkin karena alasan sederhana. Bengkel ini tak cukup menghidupi.</p><p>Namun, terkadang seseorang menemukan romantisme untuk tetap bekerja, meski apa yang mereka kerjakan sebentar lagi punah dan tergusur.</p><p>Seperti Darmo yang bertekad terus memperbaiki dokar sampai entah kapan. Hanya waktu yang bisa menjawabnya.</p><p>&quot;Kalau ngga kuat, tak kletake uwis (kalau tak kuat nanti tak biarkan saja),&#x201D; &#xA0;pungkasnya.</p><p>(Foto dan teks oleh Rendika Ferri Kurniawan)</p><p>Artikel ini juga telah tayang di <a href="https://jogja.tribunnews.com/2020/01/07/darmo-dan-bengkel-dokar-miliknya-yang-tetap-bertahan-meski-digerus-zaman?ref=rendikaferrikurniawan.fly.dev">https://jogja.tribunnews.com/2020/01/07/darmo-dan-bengkel-dokar-miliknya-yang-tetap-bertahan-meski-digerus-zaman</a></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Mencari Bekal Mati di Pondok Sepuh]]></title><description><![CDATA[Di pondok sepuh, para santri lanjut usia mencari bekal yang hendak dibawa saat antrean mereka tiba. Antrean dalam hal ini adalah kematian.]]></description><link>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/mencari-bekal-mati-di-pondok-sepuh/</link><guid isPermaLink="false">66043b6b70fd97010797da8e</guid><category><![CDATA[Photo story]]></category><category><![CDATA[Portofolio]]></category><category><![CDATA[Cerita]]></category><dc:creator><![CDATA[Rendika F. Kurniawan]]></dc:creator><pubDate>Wed, 27 Mar 2024 16:39:18 GMT</pubDate><media:content url="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08214-1.jpg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<blockquote>&quot;Kita semua hanya menunggu antrean, kapan dipanggil kita tidak akan tahu. Di pondok sepuh ini, para santri sepuh ingin mencari bekal yang dapat dibawa saat antrean mereka tiba. Antrean dalam hal ini adalah kematian&quot;</blockquote><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08214-1.jpg" alt="Mencari Bekal Mati di Pondok Sepuh"><p>Sayup-sayup bacaan ayat suci Al-Qur&apos;an merdu terdengar di antara bising deru kendaraan yang melintas.</p><p>Tampak dari seberang &#xA0;jalan Magelang-Semarang, sebuah masjid yang ramai oleh para manula. </p><p>Mereka terlihat khusuk membaca Al-Qur&apos;an. Sementara yang lain khidmat menyimak. Ada yang salat. Ada juga yang sekadar istirahat di serambi.</p><p>Merekalah santri-santri lanjut usia Pondok Pesantren Sepuh, Masjid Agung Payaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.</p><p>Ini menjadi pemandangan tak biasa. Santri identik dengan kaum muda yang belajar agama di pesantren. Tetapi, memang tak semua santri berusia muda. </p><p>Ada yang sudah sepuh yang hingga kini masih mengabdi menjadi santri. Mereka di antaranya.</p><figure class="kg-card kg-image-card kg-card-hascaption"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08174-1.jpg" class="kg-image" alt="Mencari Bekal Mati di Pondok Sepuh" loading="lazy" width="1024" height="683" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-08174-1.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/03/FujifilmX100F-08174-1.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08174-1.jpg 1024w" sizes="(min-width: 720px) 720px"><figcaption>Bertadarus menjadi salah satu rutinitas santri lansia di Pondok Sepuh Magelang. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>Meski telah di usia senja, para santri tak jua berberat kaki.</p><p>Dengan giat, mereka beribadah dan beraktivitas di pesantren. Mulai dari mengaji kitab, mendengarkan ceramah kyainya, hingga menunaikan ibadah baik wajib maupun sunah. Dari pagi hingga malam, sampai pagi lagi.</p><p>Pada 2019 lalu, saya sempat bertemu dengan pengasuh Pondok Pesantren Sepuh K.H. Muhammad Tibyan AM.</p><p>Beliau sedikit bercerita tentang perjalanan pondok sepuh ini. Pesantren sepuh ini sudah berdiri sejak dulu kala, bahkan sebelum jaman kemerdekaan.</p><p>Kyai Haji Romo Agung Anwari Siradj pada 1930 yang berjasa mendirikan pondok sepuh Payaman dan terus berlanjut hingga sekarang.</p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide kg-card-hascaption"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08173.jpg" width="1024" height="683" loading="lazy" alt="Mencari Bekal Mati di Pondok Sepuh" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-08173.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w1000/2024/03/FujifilmX100F-08173.jpg 1000w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08173.jpg 1024w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08192.jpg" width="1000" height="667" loading="lazy" alt="Mencari Bekal Mati di Pondok Sepuh" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-08192.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08192.jpg 1000w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div></div><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08208.jpg" width="1000" height="667" loading="lazy" alt="Mencari Bekal Mati di Pondok Sepuh" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-08208.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08208.jpg 1000w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08220.jpg" width="1000" height="667" loading="lazy" alt="Mencari Bekal Mati di Pondok Sepuh" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-08220.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08220.jpg 1000w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></div></div></div><figcaption>Para santri lansia mengaji dan beraktivitas di masjid di Pondok Sepuh Magelang. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>Setahun sekali saat Ramadan, ratusan santri sepuh berdatangan ke pondok di Masjid Agung Payaman untuk mengikuti pesantren. Dari awal Ramadan dan berakhir pada hari ke-21.</p><p>Mereka dalam panggilan hatinya rela meninggalkan kenyamanan masa tua. Meninggalkan keluarga dan dengan tulus mendalami agama, beribadah dan menuai pahala, demi mengumpulkan bekal mati.</p><p>Di pondok sepuh, para santri seakan berdamai dengan kematian. Mereka menyadari hidup tak akan selamanya. Hanya dengan cara inilah mereka merayakan sisa kehidupannya di dunia.</p><blockquote>&quot;Kita menyadari bahwa semua akan menuju ke &quot;Rumah Idaman&quot;, yakni lubang berukuran satu kali dua meter dengan kedalaman 1,5 meter, yakni ke alam kubur, untuk itu di sini kita mempersiapkan bekal sebaik-baiknya,&quot; ujar K.H. Muhammad Tibyan.</blockquote><figure class="kg-card kg-image-card"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08182.jpg" class="kg-image" alt="Mencari Bekal Mati di Pondok Sepuh" loading="lazy" width="1000" height="666" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-08182.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08182.jpg 1000w" sizes="(min-width: 720px) 720px"></figure><p>Berbagai kegiatan yang dilakukan para santri sedari pagi, mereka harus bangun pukul 03.00 dini hari, untuk sahur dan melaksanakan salat subuh. Pukul 06.00-07.00, kuliah subuh dilanjut pengajian sampai sebelum dhuhur, dan ashar. </p><p>Setelahnya, mereka bisa istirahat, tidur atau mencuci pakaian, dan beraktivitas seperti biasa.</p><p>Kegiatan dilanjut bakda magrib dengan berbuka puasa dan salat Magrib. Bakda Isya mereka melaksanakan tadarus hingga pukul 11.00. </p><p>Istiharat sebentar, pukul 01.00, mereka harus bangun lagi untuk melaksanakan salat hajat, salat tahajud, salat tasbih dalam waktu Qiyamul Lail.</p><figure class="kg-card kg-gallery-card kg-width-wide kg-card-hascaption"><div class="kg-gallery-container"><div class="kg-gallery-row"><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08183.jpg" width="667" height="1000" loading="lazy" alt="Mencari Bekal Mati di Pondok Sepuh" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-08183.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08183.jpg 667w"></div><div class="kg-gallery-image"><img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08204.jpg" width="667" height="1000" loading="lazy" alt="Mencari Bekal Mati di Pondok Sepuh" srcset="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/size/w600/2024/03/FujifilmX100F-08204.jpg 600w, https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2024/03/FujifilmX100F-08204.jpg 667w"></div></div></div><figcaption>Santri pondok sepuh ingin mengisi waktu di hari-hari tuanya dengan kegiatan yang baik dan ibadah. (Photographer/Rendika Ferri K)</figcaption></figure><p>&quot;Mereka dapat menginap di pondok-pondok yang telah disediakan di sekitar masjid, atau cukup tidur di serambi masjid. Kegiatan dipusatkan di Masjid Agung Payaman, dengan berbagai aktivitas dari tadarus, tarawih, kajian, dan beribadah secara tekun,&quot; kata KH Muhammad Tibyan.</p><p>Salah satu santri sepuh, Sholikin Ruslan (68) datang dari Jakarta. Ia bercerita ingin mengisi waktu di hari-hari tuanya dengan kegiatan yang baik dan ibadah. </p><p>Sholikin ingin mengumpulkan bekal yang akan dibawanya sampai akhir hayatnya.</p><p>&quot;Selagi masih hidup, saya ingin mengisi waktu saya dengan ibadah dan belajar agama. Sebagai bekal nanti di hari akhir saya,&quot; katanya.</p><p>(teks dan foto/Rendika Ferri K)</p><p>Artikel ini juga telah tayang di <a href="https://jogja.tribunnews.com/2019/05/10/mengunjungi-ponpes-manula-masjid-agung-payaman-magelang-usia-para-santrinya-mulai-50-100-tahun?page=all&amp;ref=rendikaferrikurniawan.fly.dev">https://jogja.tribunnews.com/2019/05/10/mengunjungi-ponpes-manula-masjid-agung-payaman-magelang-usia-para-santrinya-mulai-50-100-tahun?page=all</a></p>]]></content:encoded></item><item><title><![CDATA[Shinta dan Pesantren Waria]]></title><description><![CDATA[Shinta Ratri, pendiri pesantren waria di Yogyakarta, berjuang memerangi stigmatisasi waria di masyarakat. Begini kisahnya..]]></description><link>https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/shinta-dan-pesantren-waria/</link><guid isPermaLink="false">64d47ea95ebdfb01075ec489</guid><category><![CDATA[Photo story]]></category><dc:creator><![CDATA[Rendika F. Kurniawan]]></dc:creator><pubDate>Thu, 10 Aug 2023 01:24:15 GMT</pubDate><media:content url="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2023/08/D3A6D0BB-FD4B-4D34-8834-ABAE4CA07976.jpeg" medium="image"/><content:encoded><![CDATA[<img src="https://rendikaferrikurniawan.fly.dev/content/images/2023/08/D3A6D0BB-FD4B-4D34-8834-ABAE4CA07976.jpeg" alt="Shinta dan Pesantren Waria"><p>Cerita ini sebenarnya sudah lama sekitar tahun 2016 silam. Waktu itu hampir sore sekitar pukul 14.30 WIB, di Kotagede, Yogyakarta, saat saya berkunjung ke tempat tinggal Shinta Ratri, seorang transgender di Yogyakarta.</p><p>Beliau lebih suka dipanggil &quot;Bu Shinta&quot; daripada &quot;mas&quot; atau &quot;pak&quot;. Lagipula, nama itu juga nama ubahan.</p><p>Sayup-sayup terdengar merdu bacaan ayat suci Alquran dari depan rumahnya. Ia sedang mengaji di belakang rumah saat saya mengucapkan salam dan masuk menghampirinya.</p><p>Rumahnya tampak kecil, tetapi cukup lapang di dalam. Rumah yang bukan lagi tempat tinggal, tetapi juga pesantren. Bukan sembarang pesantren, tetapi pesantren waria. </p><p>Pertama saya kaget, bagaimana mereka belajar agama, sementara agama meniadakan keberadaan mereka, bahkan dianggap dosa.</p><p>Adalah Pesantren al-Fatah, pesantren yang berdiri dari gempa di Yogyakarta tahun 2006 silam. Sejumlah waria di Yogyakarta saat itu sedang mengadakan doa bersama untuk masyarakat yang menjadi korban dan juga mendoakan enam kawan waria lain yang turut meninggal.</p><p>Doa bersama yang menjadi pengajian rutin. Pengajian rutin menjadi sebuah pesantren. Pesantren Al Fatah, itulah tempat waria-waria di Yogyakarta belajar Islam.</p><p>Seorang ustaz kala itu datang sukarela di setiap pertemuan untuk membimbing mengaji para waria. Pengajian sebagaimana pengajian pada umumnya. Mereka mengaji, bertadarus, mendengarkan ceramah dan kajian, dan shalat atau sembahyang yang tak lupa dikerjakan.</p><p>Pemandangan yang tak biasa saya lihat dalam sebuah pengajian. Para waria sebagian berdandan menggunakan hijab, jilbab atau rukuh. Ada yang berpakaian lengkap dengan sarung dan peci. Namun, ternyata semua penampilan itu tak menjadi soal. </p><p>Mereka amat menghormati waktunya dengan Tuhan. Waktu untuk bercerita dan berdoa kepada-Nya yang sejuk, khusyuk, dan penuh harap.</p><p>Selesai mengaji, kami sempat berbincang tentang banyak hal. Sebagian besar soal waria dan stigmatisasi terhadap mereka. Ia juga bercerita soal masa lalunya yang dia rasakan pahit. Dia bercerita kalau pernah menikah, tetapi tak berjalan mulus dengan status yang dia sandang. Banyak hal yang kami bicarakan.</p><p>Salah satunya ketika dia mengutarakan kepada saya beberapa alasan yang mendasari didirikannya pesantren waria ini. Shinta ingin mendidik rekan-rekannya sesama waria agar lebih paham dengan ajaran Islam.</p><p>Keinginannya juga agar masyarakat lebih paham dengan keberadaan waria, juga dorongan kepada pemerintah untuk lebih tahu persoalan waria. Melalui pesantren ini, Shinta dan rekan-rekan waria ingin menjadi manusia yang lebih baik. </p><blockquote class="kg-blockquote-alt">&quot;Kami ingin belajar agama islam. Kami ingin berubah ke arah yang lebih baik. Kami ingin menjadi manusia yang lebih baik,&quot; ujarnya.</blockquote><h3 id="saya-pulang-dengan-menyesak-haru-di-dada-bagaimana-pun-juga-pandangan-agama-pandangan-masyarakat-yang-buruk-mereka-tetaplah-manusia-sama-seperti-saya-semua-sama">Saya pulang dengan menyesak haru di dada. Bagaimana pun juga pandangan agama, pandangan masyarakat yang buruk, mereka tetaplah manusia. Sama seperti saya. Semua sama.<br></h3><p>Beberapa tahun tak bertemu, saya mendengar kabar bahwa Shinta meninggal dunia. Ia meninggal pada Rabu, 1 Februari 2023 lalu, karena sakit jantung. Saya mengenalnya sebagai pribadi yang baik, terlepas apapun alasan selain itu. Selamat jalan.</p>]]></content:encoded></item></channel></rss>